Lomba 17 Agustusan seperti panjat pinang dan balap karung ternyata punya sejarah panjang. Simak 5 lomba paling ikonik dan makna di baliknya.

HUT ke-81 Republik Indonesia tinggal menghitung hari, dan seperti biasa,
jalanan kampung sampai halaman kantor bakal dipenuhi lomba-lomba khas 17 Agustusan.
Tapi tahukah kamu, sebagian besar lomba ini ternyata bukan lahir begitu saja setelah kemerdekaan? Menurut sejarawan JJ Rizal,
tradisi perlombaan 17 Agustusan justru baru marak digelar sekitar 1950-an, tepatnya saat HUT ke-5 RI,
setelah Indonesia melewati masa revolusi fisik dan periode Republik Indonesia Serikat [metrotvnews.com].
1. Panjat Pinang
Lomba dengan batang pohon licin berlumur oli ini punya sejarah paling pahit di antara semuanya.
Panjat pinang diperkirakan mulai dimainkan pada masa kolonial Belanda sekitar 1920-1930-an,
di mana warga pribumi berebut hadiah di puncak tiang sementara para meneer Belanda menonton sambil tertawa.
Kini, maknanya dibalik sepenuhnya menjadi simbol kerja sama dan pantang menyerah demi meraih cita-cita bersama.
2. Balap Karung
Sama seperti panjat pinang, balap karung juga sudah hadir di Nusantara sejak awal abad ke-20.
Di Belanda sendiri, permainan ini dikenal dengan nama zakloopen. Setelah Indonesia merdeka,
gerakan melompat sambil menginjak karung goni diadaptasi menjadi simbol kebebasan dari penjajahan,
sekaligus pengingat masa ketika karung goni jadi alternatif bahan sandang karena keterbatasan kain [metrotvnews.com].
3. Makan Kerupuk
Lomba yang mengharuskan peserta makan kerupuk yang digantung tanpa bantuan tangan ini mulai populer sejak era 1950-an. Kerupuk dipilih bukan tanpa alasan, sebab dulunya kerupuk dikenal sebagai makanan sederhana dan murah yang banyak dikonsumsi masyarakat di tengah keterbatasan pascakemerdekaan.
4. Tarik Tambang
Berbeda dari tiga lomba sebelumnya yang berakar dari masa kolonial, tarik tambang lebih menonjolkan filosofi universal: kemenangan tidak bisa diraih sendirian. Lomba ini mengajarkan pentingnya kekompakan dan koordinasi tim, nilai yang sejalan betul dengan semangat gotong royong yang jadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia sejak masa perjuangan.
5. Egrang
Kalau empat lomba di atas identik dengan tanah becek dan keramaian, egrang justru menuntut keseimbangan di atas dua batang bambu tinggi. Menariknya, egrang dulu sempat digunakan warga pribumi sebagai bentuk sindiran halus terhadap postur tubuh tinggi para kolonial Belanda, sebelum akhirnya berubah menjadi lomba keseimbangan yang seru buat segala usia.
Kalau kamu berencana ikut meramaikan lomba-lomba ini di lingkungan rumah, jangan lupa jaga stamina biar nggak lemas di tengah perlombaan. Dieteticienne sudah bahas rekomendasi camilan sehat yang pas buat menemani serunya perayaan HUT RI tahun ini.
